"A journey of a thousand miles begins with a single step!!"

Each of us must have destination, and for the destination sometime we have to struggle. Sometimes only a little thing that make the difference, and maybe it's coming from your single step today! Whoever and whatever you're I invited you to share about economic development, finance, taxation, and other economic subject. I have starting this idea, and if you would like to join, i will be very pleased.

Monday, 11 May 2009

Asas Pengenaan Pajak

Dalam literatur perpajakan internasional kita mengenal beberapa prinsip pemajakan yang dianut oleh suatu otoritas perpajakan suatu negara. Antara suatu negara dengan negara lainnya tidak selalu sama, bahkan cenderung berbeda antara satu dengan yang lain. Kita mengetahui ada 3 prinsip pemajakan yaitu residence principle, source principle, citizenship principle. Apa perbedaan ketiganya?

Residence principle adalah prinsip pemajakan yang dianut suatu negara berdasarkan tempat tinggal subjek pajak. Dengan kata lain setiap orang yang tinggal disuatu negara maka hak pemajakannya, baik dari penghasilan dari dalam negeri maupun luar negeri (world wide income), di miliki oleh negara tempat subjek pajak tersebut bertempat tinggal. Misal si Adi, bertempat tinggal di negara A, maka hak pemajakan atas penghasilannya dimiliki oleh negara A.
Source Principle adalah prinsip pemajakan dimana pengenaan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara itu tanpa memandang dari status residency dari penerima penghasilan. Misal si banu adalah warga negara dan bertenpat tinggal di negara
C, memperoleh penghasilan atas suatu usaha yang dilakukan di negara B, maka atas penghasilan tersebut akan dikenakan pajak di negara B.
Sedangkan Azas kewarganegaraan (citizenship)adalah asas pengenaan pajak berdasarkan status warganegara. Pengertian ini lebih jelas karena hak pemajakan atas subjek pajak didasarkan pada kewarganegaraan subjek pajak tersebut.
Ketiga prinsip pemajakan tersebut adalah salah satu yang memicu adanya pajak berganda di dunia ini. Sehingga negara-negara, baik secara domestik,bilateral, multilateral berupaya untuk menghilangkan pajak berganda tersebut sehingga tidak mengganggu netralitas perdagangan.


Labels:

Perjalanan Usia

Pada saat menulis ini, saya baru saja memperingati milad ke 28 pada akhir bulan april kemarin. Tidak ada perayaan, tidak ada ucapan yang berlebihan hanya beberapa sms dan email dari sobat-sobat lama dan teman kantor, bahkan tidak ada traktiran untuk mereka ataupun kado bagi saya namun saya merasakan kebahagiaan dalam kesunyisenyapan tersebut. Pun tak banyak kontemplasi yang saya lakukan dalam hari lahir saya. Namun saya bahagia karena orang-orang terdekat saya ada disamping saya, dan bagi saya mereka telah terlalu banyak memberi kepada saya sehingga tanpa ucapan selamat-pun rasanya ikhlas.

Perjalanan usia manusia dari bayi yang masih merah sampai dengan ujung usianya selalu menyisakan cerita kepada orang-orang yang dikenalnya. Perjalanan panjang yang memerlukan uluran tangan orang lain, tanpa bantuan orang lain mustahil bagi kita untuk dapat menempuh perjalanan itu. Dari kecil perjalanan kita sudah dibimbing oleh kedua orang tua kita, ayah dan ibu. Perhatian dan kasih sayang mereka membentuk kita sedemikian rupa sehingga kita pun beranjak dewasa dan bersiap untuk mengalirkan energi dan kasih sayang kita kepada orang lain.
Maka peringatan milad tidak berarti tanpa ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Ibu dan Ayah kita yang telah memberikan kasih sayangnya dengan keikhlasan yang tulus.Tidak hanya kepada orang tua, namun dalam perjalanan hidup kita juga harus berterimakasih kepada orang-orang disekitar kita, anak, istri, saudara, teman, dll.
Perjalanan dalam 28 tahun di dunia memberikan banyak hal dalam hidup. Pengalaman hidup yang semakin beragam memberikan perspektif yang lebih luas dalam memandang segala sesuatu di dunia ini. Mengenal berbagai macam jenis manusia dan sifat-sifatnya, sehingga seharusnya bisa lebih bijak dalam memahami orang lain.
Namun kontemplasi milad 28 tahun ini bukannya tanpa cela. Banyak kekecewaan, kegagalan, dan lengkungan-lengkungan kehidupan yang dilalui. Banyak ambisi yang tidak atau belum tercapai, lebih banyak lagi yang meleset. Kekecewaan terhadap jalannya kehidupan memang selalu ada namun pada akhirnya kita harus banyak bersyukur atas apa yang kita dapatkan, karena kehidupan tidak selalu berbanding lurus dengan apa yang kita inginkan. Bahkan apa yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut Sang Pencipta.
Dan akhirnya kontemplasi milad 28 tahun ini harus diakhiri dengan tundukan kepala yang dalam untuk memberikan ruang yang lebih besar kepada Penguasa Semesta. Pikiran, energi, dan tindakan kita harus sepenuhnya mengarah kepada kekuatan Allah SWT, karena hidup kita pada akhirnya adalah pemberiannya. Rasa syukur atas segalanya menjadi titik tolak bagi kita untuk berjalan kedepan. Semoga bertambahnya usia menjadikan saya lebih baik dalam segala hal, serta mampu memberikan jalan yang terbaik bagi saya, keluarga, saudara, teman, dan orang-orang disekitar kita. Amin


Labels:

Internet Kill Newspapers

Beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 1980an, kita pernah akrab dengan lagu “video kill the radio star” yang dinyanyikan oleh “The Buggles”. Bukan ingin bernostalgia dengan lagu tersebut yang populer ketika saya masih sangat kecil, namun pada saat lagu tersebut ngetop ada fenomena yang persis digambarkan dalam lirik lagu tersebut. Pada saat itu bisnis visual terutama video klip memang sedang naik daun. Penggemar musik yang sebelumnya lebih mengenal radio dan tape player sebagai media untuk mendengarkan lagu-lagu populer, disodori dengan munculnya video klip-video klip dari penyanyi mereka yang sering diputar di televisi maupun dijual videonya. Dan pada saat yang bersamaan popularitas radio menjadi menurun.

Sekarang dimana era internet mulai menggurita dihampir seluruh dunia, banyak hal yang mulai tersisihkan. Kemudahan, kecepatan, dan kualitas yang ditampilkan oleh internet menjadi penyebab utama menjamurnya internet sebagai bagian fungsional kehidupan umat manusia didunia. Penemuan internet memang sangat revolusioner, beberapa batasan yang dulunya mustahil, dengan internet batasan-batasan tersebut menjadi terlampaui dan menciptakan batasan-batasan yang baru semisal kecepatan informasi dan sebagainya.
Media massa konvensional khususnya koran, saat ini juga mengalami hal yang sama. Jumlah pengguna internet yang sangat tinggi dan kehadiran berbagai macam e-paper telah menjadikan koran konvensional menjadi barang usang. Beberapa hari lalu hal ini terbukti di amerika, beberapa koran terkemuka yang telah berdiri selama puluhan tahun harus menghadapi krisis yang lain, selain krisis ekonomi global, yaitu beralihnya pembaca koran konvensional ke internet. Koran-koran konvensional tersebut saat ini bahkan menghadapi pilihan sulit dengan menghentikan penerbitan atau dengan melakukan PHK terhadap karyawannya.
Selain itu kesadaran masyarakat mengenai isu global warming juga ikut mempengaruhi para pembaca koran untuk beralih ke internet. Bahan dasar kertas yang digunakan oleh koran konvensional diyakini oleh masyarakat akan membuat banyak pohon yang ditebang dan membuat hutan-hutan menjadi gundul sehingga membuat dampak lingkungan atau global warming semakin parah.
Di indonesia sendiri meskipun belum terlalu parah seperti di amerika, tanda-tanda beralihnya pembaca koran konvensional ke e-paper semakin nyata. Menurunnya oplah koran konvensional mulai dirasakan meskipun dapat diantisipasi dengan meluaskan jaringan ke daerah-daerah dan melakukan penyesuaian muatan berita lokal seperti yang dilakukan kompas dan berbagai koran lain, namun hal ini penulis yakini ini masih dibantu karena ketidak merataan sosio ekonomi masyarakat indonesia terutama antara Barat-Timur, Desa-Kota, serta wilayah geografis Indonesia yang berpulau-pulau sehingga masih ada ceruk pasar yang potensial untuk koran konvensional.
Namun hal tersebut kemungkinan besar tidak akan berlangsung lama karena tingat internet-literacy masyarakat yang semakin tinggi ditunjang dengan maraknya pembangunan infrastruktur akan memberikan ruang yang lebih bagi e-paper untuk semakin berkembang dan disatu sisi membuat koran konvensional semakin terjepit.
Meskipun demikian core bisnis media massa yaitu sebagai penyedia informasi tetap akan bertahan selamanya, beberapa perusahaan koran konvensional telah menyadari hal tersebut sehingga dalam lima tahun terakhir kita banyak melihat munculnya e-paper yang suatu saat dirancang untuk menggantikan peran koran konvensional. Meskipun sebelumnya telah ada situs-situs berita yang muncul terlebih dahulu. Kecepatan dalam bertindak untuk melakukan perubahan dalam hal cara melakukan bisnis akan menyelamatkan para pelaku bisnis media untuk terus bertahan.


Labels: